Performative Masculinity and Hegemonic Masculinity: A Study of the Low Involvement of Men in Sunday School Ministry
Performativitas dan Hegemoni Maskulinitas: Studi terhadap Minimnya Keterlibatan Laki-laki dalam Pelayanan Sekolah Minggu
Downloads
Minimnya keterlibatan laki-laki sebagai guru Sekolah Minggu di Gereja Toraja (SMGT) Jemaat Palawa mencerminkan konstruksi sosial tentang peran gender dalam konteks gerejawi, di mana perempuan mendominasi pelayanan pengajaran sementara laki-laki sebagian besar absen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan minimnya partisipasi laki-laki dalam pelayanan Sekolah Minggu dan menganalisis bagaimana performativitas gender dan maskulinitas hegemonik beroperasi dalam konteks ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi lapangan, mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi yang melibatkan 53 responden, termasuk pendeta, penatua, diaken, guru Sekolah Minggu, dan jemaat. Data dianalisis secara tematik menggunakan teori performativitas Judith Butler, maskulinitas hegemonik R. W. Connell, dan teologi feminis Rosemary Radford Ruether. Temuan menunjukkan bahwa keterlibatan guru laki-laki diakui penting sebagai figur teladan, pengimbang peran gender, dan sumber kepemimpinan rohani anak. Namun, keterlibatan ini terkendala oleh hambatan budaya dan stereotip gender, kesibukan pekerjaan, kurangnya keterampilan pedagogis, serta strategi rekrutmen yang pasif. Kurangnya keterlibatan laki-laki dalam pelayanan Sekolah Minggu disebabkan oleh performativitas gender dan maskulinitas hegemonik, namun kehadiran laki-laki dan perempuan secara seimbang adalah panggilan bersama dari Allah Tritunggal. Studi ini berkontribusi pada teologi praktis dengan mengusulkan bahwa gereja harus secara sengaja mengatasi hambatan-hambatan ini melalui pendidikan teologis, pelatihan pedagogis, dan reformasi struktural yang mewujudkan kesetaraan radikal Galatia 3:28.
The low involvement of men as Sunday School teachers in Gereja Toraja (SMGT) at Jemaat Palawa reflects social constructions of gender roles within the ecclesial context, where women dominate the teaching ministry while men are largely absent. This study aims to identify the factors contributing to the minimal participation of men in Sunday School ministry and to analyze how gender performativity and hegemonic masculinity operate within this context. The research employs a qualitative method with a field study approach, collecting data through in-depth interviews, participatory observation, and documentation studies involving 53 respondents, including pastors, elders, deacons, Sunday School teachers, and congregants. Data were analyzed thematically using Judith Butler's theory of performativity, R. W. Connell's hegemonic masculinity, and Rosemary Radford Ruether's feminist theology. The findings indicate that the involvement of male teachers is recognized as important for serving as role models, balancing gender roles, and providing spiritual leadership for children. However, this involvement is constrained by cultural barriers and gender stereotypes, occupational busyness, lack of pedagogical skills, and passive recruitment strategies. The lack of male involvement in Sunday School ministry is caused by gender performativity and hegemonic masculinity, yet the balanced presence of men and women is a shared calling from the Triune God. This study contributes to practical theology by proposing that the church must intentionally address these barriers through theological education, pedagogical training, and structural reforms that embody the radical equality of Galatians 3:28.
