Hal Hal Mengasihi Sesama dan Musuh
Refleksi Dari Lukas 6:27-36 terhadap Konteks Dialog Beragama
Abstract
This article discusses the concept of love within the context of Christian teachings, specifically in the relationships among people living in pluralistic societies. "Agape," the Greek term for love, represents the unconditional love that God has for humanity. This love is seen as the foundation of Jesus' teachings, emphasizing the importance of loving one’s neighbor, including one’s enemies, as a reflection of God's love. In a diverse society like Indonesia, the principle of love plays a crucial role in addressing potential religious and cultural conflicts, as differences often serve as sources of tension. Christians are called to be agents of love, not only toward fellow believers but toward all of humanity. Loving unconditionally can break down walls of hostility and prevent cycles of revenge. This article also highlights the importance of a proper understanding of love as a selfless act, demonstrated by Jesus, which inspires peace and unity within society. Through love manifested in concrete actions, Christians become reflections of God’s love in a diverse environment. Love practiced without discrimination serves as a unifying force that transcends differences in ethnicity, race, or religion and strengthens social integration to foster peace and harmony. This research contributes by emphasizing the role of unconditional love as a Christian solution for breaking down barriers of difference and conflict in plural societies, thereby promoting social harmony and peace.
Artikel ini membahas konsep kasih dalam konteks ajaran Kristen, khususnya dalam relasi antara umat manusia yang hidup dalam masyarakat plural. Kasih, yang berasal dari kata Yunani "Agape," mencerminkan kasih tanpa syarat yang dimiliki Allah bagi manusia. Kasih ini dipandang sebagai dasar ajaran Yesus, yang menekankan pentingnya mengasihi sesama, termasuk musuh, sebagai cerminan kasih Allah. Dalam masyarakat yang beragam seperti Indonesia, prinsip kasih memiliki peran penting dalam mengatasi potensi konflik antaragama dan budaya, karena perbedaan sering kali menjadi pemicu ketegangan. Orang Kristen dipanggil sebagai agen kasih, tidak hanya untuk sesama umat beragama, tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Mengasihi tanpa syarat dapat meruntuhkan tembok permusuhan dan menghindarkan balas dendam. Artikel ini juga menyoroti pentingnya pemahaman yang benar akan kasih sebagai suatu tindakan tanpa pamrih yang ditunjukkan Yesus, yang menginspirasi perdamaian dan persatuan dalam masyarakat. Melalui kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata, orang Kristen menjadi cerminan kasih Allah dalam lingkungan masyarakat yang majemuk. Kasih, yang dijalankan tanpa diskriminasi, berfungsi sebagai kekuatan pemersatu yang melampaui perbedaan suku, ras, atau agama, serta memperkokoh integrasi sosial demi mewujudkan kedamaian dan kerukunan hidup. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menekankan peran kasih tanpa syarat sebagai solusi Kristen untuk meruntuhkan sekat-sekat perbedaan dan konflik dalam masyarakat plural, guna mewujudkan perdamaian dan kerukunan sosial.
References
Adams, Jay E. Bagaimana Mengalahkan Kejahatan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003
Ayawailai, Estherlina Maria. Makna Hidup Dalam Kasih. Bengkulu: STT Arastamar Bengkulu, 2017.
Brownlee, Malcolm. Tugas Manusia Dalam Dunia Milik Tuhan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004.
Cormack, P. “Interfaith Collaboration in Social Action: A Christian Perspective.” Journal of Religious Social Ethics, 16, no4 (2012): 45-59.
Fisher, R. Faith and Action: Interfaith Cooperation for Social Change. Oxford: Oxford University Press, 2011.
Goergen, Donald J. Mission and Ministry of Jesus. Wilmington: Del Michael Glazier, 1986.
Gianto, Agustinus. Dag-dig-dug Byaar!: Kumpulan Ulasan Injil. Yogyakarta: Kanisius, 2004.
Groenen, C. Pengantar Ke Dalam Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius, 1980.
Harun, Martin. Inilah Injil Yesus Kristus. Yogyakarta: Kanisius, 2000.
Ismail, H. Faisal. Islam, Konstitusionalisme, Dan Pluralisme. Yogyakarta: IRCiSoD, 2019.
Jansen, C. “Love and Peace in the Context of Interfaith Dialogue: A Christian Perspective.” Journal of Peace Studies 8, no. 2 (2013): 132-145.
Juergensmeyer, M. Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence. Berkeley, CA: University of California Press, 2008.
Kamdhi, JS. Terampil Berargumen. Jakarta: Grasindo, 2003.
Keller, Timothy. Injil Dalam Kehidupan Surabaya: Perkantas Jawa Timur, 2010.
Kelsey, D. H. Interfaith Dialogue and the Challenge of Peace. Cambridge, MA: Harvard University Press, 2007.
Kraybill, Donald B. Kerajaan Yang Sungsang. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.
Mahardi, Dedi. Terbalik: Jadikan musuh terburukmu sebagai guru terbaikmu (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2018.
Mills, Dag Heward. Siapa Yang Tidak Mempunyai, Apa pun Juga Yang Ada Padanya Akan Diambil Dari Padanya. London: Parchment House, 2015.
Munck, Johannes. Paul and the Salvation of Mankind. London: SCM Press, 1959.
Napel, Henk Ten. Jalan Yang Lebih Utama Lagi Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.
Nussbaum, M. The New Religious Intolerance: Overcoming the Politics of Fear in an Anxious Age. Cambridge: Harvard University Press, 2011.
Quell, G. & Stauffer, E. “Agape” Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 1, A-L, J Doughlas (ed) Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2016.
Ridenour, Firzt. Menggapai Kesempurnaan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.
Rizki, Juni Wati Sri. Kepemilikan Media & Ideologi Pemberitaan. Yogyakarta: Budi Utama, 2016.
Supriyati, Adri. Tidak ada Penumpang Gelap: Warga Gereja, Warga Bangsa. Jakarta: Biro Penelitian dan Komunikasi PGI & BPK Gunung Mulia, 2009.
Simon & Christoper Danes, Moral Sosial Aktual: Dalam Perspektif Iman Kristen. Yogyakarta: Kanisius, 2006.
Sirait, Bigman. Gereja Yang Membumi. Jakarta: Yapama, 2015.
Smith, H. The World's Religions: Our Great Wisdom Traditions. San Francisco, CA: HarperOne, 2009.
Surip, Stanislaus. Kata-kata Pedas Bernas: Biarlah orang mati menguburkan orang mati. Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Tamrin, A.S. Tuhan Tanpa Agama. Sukabumi: Jejak, 2019.
Thomas, E. “The Concept of Love in Christian Theology: A Reflection on Agape and Its Role in Interfaith Dialogue.” Journal of Religious Studies, 35, no. 4 (2018): 145-160.
Titaley, John A. Menuju Teologi Agama-agama Yang Kontekstual. Salatiga: UKSW, 2001.
Untoro, Bambang. Benarkah Aku Mengasihimu?: Menemukan Makna Kasih dalam Hubungan Suami-Istri. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
Wiyanti, Asul. Mampu Berbahasa Indonesia: SMP dan MTs Kelas VIII. Jakarta: Grasindo, 2004.
Wolf, Herbert. Pengenalan Pentateukh. Malang: Gandum Mas, 1998.
Yeboah, Abram. Garis Besar Khotbah-Khotbah Menurut Tahun Gerejawi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.
Copyright (c) 2024 Journal of Religious and Socio-Cultural

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.








